Terdapat
teori dalam paradigma kritis yaitu teori feminisme dan analisis wacana, namun
di disini saya akan menjelaskan dan menganalisis tentang teori feminisme.
Feminisme
berdasar pada asumsi bahwa gender merupakan konstruksi sosial yang didominasi
oleh pemahaman yang bias laki-laki dan menindas perempuan. Feminisme secara
umum menantang pendapat masyarakat dan mencari alternatif pemahaman yang lebih
membebaskan, yaitu pemahaman yang meletakkan wanita dan pria dalam posisi yang
seimbang. Feminisme dapat diklasifikasi menjadi dua golongan, yaitu feminisme
liberal dan feminisme radikal. Feminisme liberal lebih kepada paham paham
demokrasi liberal, yaitu bahwa keadilan mencakup juga jaminan terhadap kesamaan
hak bagi semua individu. Sedangkan feminisme radikal, lebih kepada melihat
persoalan tidak sebatas pada hak yang bersifat publik. Oleh karena itu, jika
feminisme liberal beranggapan bahwa masalah gender dapat diatasi dengan
distribusi hak secara adil, maka bagi feminisme radikal hal ini tidak
menyelesaikan persoalan.
Salah satu contoh film yang banyak sekali menggambarkan
feminisme adalah Film “Perempuan Berkalung Sorban”. Film yang diangkat dari
sebuah novel karya Abidah El khalieqy ini menceritakan tentang seorang
gadis kecil bernama Anisa, ia hidup di lingkungan pesantren sebagai putri dari
seorang kiyai. Anisa adalah anak yang lincah dan cerdas, namun posisinya
sebagai perempuan menjadikannya tidak bebas berkreasi. Anisa selalu merasa
keluarga serta adat ditempatnya tidak adil. Ia dilarang berkuda, berbicara saat
makan, berpendapat, dan bergurau bersama, sementara kedua kakak laki-lakinya
diizinkan. Ia juga harus rajin belajar dan bangun pagi, sementara kakaknya
boleh bermalas-malasan sesuka hati, semua itu hanya karena ia seorang
perempuan.
Anisa tidak pernah
tinggal diam atas perlakuan itu, ia selalu berontak. Anisa mempunyai seorang
saudara sekaligus sebagai satu-satunya sahabat yang selalu memahaminya, Lek
Khudori, begitu panggil Anisa. Namun, kedekatan mereka harus terenggang ketika
Khudori harus melanjutkan studinya ke Kairo, dan hanya suratlah penyambung bisu
hubungan keduanya.
Setelah lulus sekolah
dasar, Anisa dipaksa menikah dengan putra seorang kiyai, dialah Syamsudin.
Syamsudin selalu melakukan kekerasan dalam rumah tangga, selalu membentak,
memukul, memaksa, bahkan dalam berhubungan suami-istri Syamssudin sering
meminta yang tidak wajar. Suatu ketika, Anisa didatangi seorang janda yang
tengah hamil tua, dia mengaku bahwa anak tersebut adalah buah hatinya bersama
Syamsudin. Kemudian Anisa harus bersedia dipoligami. Merasa senasib mendapat
perlakuan kurang baik dari Syamsudin, Anisa dan mbak Kalsum, si istri muda,
sepakat untuk saling bantu. Mbak Kalsum juga sering belajar mengaji pada Anisa.
Di sisi lain,
kembalinya Khudori dari Kairo mengembalikan harapan Anisa untuk memerdekakan
diri pula. Dengan ditemani Khudori, Anisa berani menceritakan semua kejadian
yang ia alami selama berumah tangga dengan Syamsudin. Kemudian, keluarga Anisa
melakukan musyawarah dengan keluarga Syamsudin untuk perceraian mereka.
Perceraian itupun terjadi, Anisa merasa sangat lega. Namun, Anisa dan Khudori
kembali resah ketika cinta mereka yang tumbuh seiring dengan berjalannya waktu
itu tidak mendapat restu dari orang tua Anisa. Mereka kemudian melanjutkan
hidup masing-masing sambil menunggu masa idah Anisa dan restu dari orang
tuanya.
Anisa melanjutkan
studinya, ia kuliah di Jogjakarta. Di sana ia mengikuti organisasi yang
mengurusi hak-hak perempuan. Ia juga aktif dalam duni tulis-menulis. Di
tengah-tengah kesibukan yang ia nikmati, Khudori kembali datang dan
meminangnya. Kali ini Khudori sudah mendapat restu dari orang tua Nisa. Mereka
pun menikah. Kehidupan rumah tangga mereka sangat damai. Khudori sering
membantu Anisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Walaupun kadang terjadi
masalah, keduanya bisa mengatasi itu dengan baik. Kebahagiaan mereka bertambah
lengkap setelah cukup lama menunggu dengan sabar untuk mendaptkan momongan.
Anisa melahirkan seorang bayi yang kemudian diberi nama Mahbub yang berarti
cinta kasih.
Suatu hari Anisa dan
khudori menghadiri sebuah undangan pernikahan teman lamanya di kampung
kelahirannya. Di situ, mereka bertemu kembali dengan syamsudin. Dari matanya,
nampak kebencian dan keirian Syamsudin pada Khudori. Kemudian Syamsudin
meninggalkan tempat itu. Tak jauh dari pertemuan itu, Anisa mendapat kabar
bahwa Khudori mengalami
kecelakaan dan tidak dapat diselamatkan lagi. Tuduhan Anisa selalu mengarah
pada satu nama: Syamsudin. Namun, bagaimanapun juga ia tak punya bukti yang
nyata. Akhirnya ia harus menjalani hidup ini tanpa Khudori dan membesarkan
Mahbub sendirian.
Dari cerita di atas, kajian ini menitikberatkan pada
perspektif feminis tokoh utama dan penggambaran kehidupan pesantren yang
terkandung dalam film perempuan berkalung sorban. Gerakan feminisme dalam film
ini adalah keinginan Annisa untuk hidup lebih mandiri dan mensejajarkan dirinya
dengan laki-laki. Annisa memberontak dengan ia mencoba berlatih menaiki kuda.
Namun ibunya melarang Annisa untuk berlatih dan ayahnya sangat marah karena perbuatan
Annisa. Ayahnya melarang Annisa berlatih karena ia adalah seorang perempuan.
Didalam film ini juga ada adegan dimana Annisa terpilih menjadi ketua kelas dan
mengalahkan teman laki-lakinya, namun hal ini dicegah oleh gurunya dengan tidak
membolehkan Annisa menjadi ketua kelas, karenahanya laki-laki saja yang pantas
untuk menjadi seorang pemimpin.
Didalam Film ini banyak sekali teori feminisme yang berperan didalamnya. Di dalam film ini juga memiliki pesan bahwa sebenarnya wanita tidak ada bedanya dengan laki-laki. Wanita tidak boleh tergantung dengan laki-laki dan tidak boleh lemah dari laki-laki.
Didalam Film ini banyak sekali teori feminisme yang berperan didalamnya. Di dalam film ini juga memiliki pesan bahwa sebenarnya wanita tidak ada bedanya dengan laki-laki. Wanita tidak boleh tergantung dengan laki-laki dan tidak boleh lemah dari laki-laki.

