Rabu, 07 Januari 2015

Paradigma Kritis dalam Film Wanita Berkalung Sorban

Terdapat teori dalam paradigma kritis yaitu teori feminisme dan analisis wacana, namun di disini saya akan menjelaskan dan menganalisis tentang teori feminisme.
Feminisme berdasar pada asumsi bahwa gender merupakan konstruksi sosial yang didominasi oleh pemahaman yang bias laki-laki dan menindas perempuan. Feminisme secara umum menantang pendapat masyarakat dan mencari alternatif pemahaman yang lebih membebaskan, yaitu pemahaman yang meletakkan wanita dan pria dalam posisi yang seimbang. Feminisme dapat diklasifikasi menjadi dua golongan, yaitu feminisme liberal dan feminisme radikal. Feminisme liberal lebih kepada paham paham demokrasi liberal, yaitu bahwa keadilan mencakup juga jaminan terhadap kesamaan hak bagi semua individu. Sedangkan feminisme radikal, lebih kepada melihat persoalan tidak sebatas pada hak yang bersifat publik. Oleh karena itu, jika feminisme liberal beranggapan bahwa masalah gender dapat diatasi dengan distribusi hak secara adil, maka bagi feminisme radikal hal ini tidak menyelesaikan persoalan.
Salah satu contoh film yang banyak sekali menggambarkan feminisme adalah Film “Perempuan Berkalung Sorban”. Film yang diangkat dari sebuah novel karya Abidah El khalieqy ini menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Anisa, ia hidup di lingkungan pesantren sebagai putri dari seorang kiyai. Anisa adalah anak yang lincah dan cerdas, namun posisinya sebagai perempuan menjadikannya tidak bebas berkreasi. Anisa selalu merasa keluarga serta adat ditempatnya tidak adil. Ia dilarang berkuda, berbicara saat makan, berpendapat, dan bergurau bersama, sementara kedua kakak laki-lakinya diizinkan. Ia juga harus rajin belajar dan bangun pagi, sementara kakaknya boleh bermalas-malasan sesuka hati, semua itu hanya karena ia seorang perempuan.
Anisa tidak pernah tinggal diam atas perlakuan itu, ia selalu berontak. Anisa mempunyai seorang saudara sekaligus sebagai satu-satunya sahabat yang selalu memahaminya, Lek Khudori, begitu panggil Anisa. Namun, kedekatan mereka harus terenggang ketika Khudori harus melanjutkan studinya ke Kairo, dan hanya suratlah penyambung bisu hubungan keduanya.
Setelah lulus sekolah dasar, Anisa dipaksa menikah dengan putra seorang kiyai, dialah Syamsudin. Syamsudin selalu melakukan kekerasan dalam rumah tangga, selalu membentak, memukul, memaksa, bahkan dalam berhubungan suami-istri Syamssudin sering meminta yang tidak wajar. Suatu ketika, Anisa didatangi seorang janda yang tengah hamil tua, dia mengaku bahwa anak tersebut adalah buah hatinya bersama Syamsudin. Kemudian Anisa harus bersedia dipoligami. Merasa senasib mendapat perlakuan kurang baik dari Syamsudin, Anisa dan mbak Kalsum, si istri muda, sepakat untuk saling bantu. Mbak Kalsum juga sering belajar mengaji pada Anisa.
Di sisi lain, kembalinya Khudori dari Kairo mengembalikan harapan Anisa untuk memerdekakan diri pula. Dengan ditemani Khudori, Anisa berani menceritakan semua kejadian yang ia alami selama berumah tangga dengan Syamsudin. Kemudian, keluarga Anisa melakukan musyawarah dengan keluarga Syamsudin untuk perceraian mereka. Perceraian itupun terjadi, Anisa merasa sangat lega. Namun, Anisa dan Khudori kembali resah ketika cinta mereka yang tumbuh seiring dengan berjalannya waktu itu tidak mendapat restu dari orang tua Anisa. Mereka kemudian melanjutkan hidup masing-masing sambil menunggu masa idah Anisa dan restu dari orang tuanya.
Anisa melanjutkan studinya, ia kuliah di Jogjakarta. Di sana ia mengikuti organisasi yang mengurusi hak-hak perempuan. Ia juga aktif dalam duni tulis-menulis. Di tengah-tengah kesibukan yang ia nikmati, Khudori kembali datang dan meminangnya. Kali ini Khudori sudah mendapat restu dari orang tua Nisa. Mereka pun menikah. Kehidupan rumah tangga mereka sangat damai. Khudori sering membantu Anisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Walaupun kadang terjadi masalah, keduanya bisa mengatasi itu dengan baik. Kebahagiaan mereka bertambah lengkap setelah cukup lama menunggu dengan sabar untuk mendaptkan momongan. Anisa melahirkan seorang bayi yang kemudian diberi nama Mahbub yang berarti cinta kasih.
Suatu hari Anisa dan khudori menghadiri sebuah undangan pernikahan teman lamanya di kampung kelahirannya. Di situ, mereka bertemu kembali dengan syamsudin. Dari matanya, nampak kebencian dan keirian Syamsudin pada Khudori. Kemudian Syamsudin meninggalkan tempat itu. Tak jauh dari pertemuan itu, Anisa mendapat kabar bahwa Khudori mengalami kecelakaan dan tidak dapat diselamatkan lagi. Tuduhan Anisa selalu mengarah pada satu nama: Syamsudin. Namun, bagaimanapun juga ia tak punya bukti yang nyata. Akhirnya ia harus menjalani hidup ini tanpa Khudori dan membesarkan Mahbub sendirian.
Dari cerita di atas, kajian ini menitikberatkan pada perspektif feminis tokoh utama dan penggambaran kehidupan pesantren yang terkandung dalam film perempuan berkalung sorban. Gerakan feminisme dalam film ini adalah keinginan Annisa untuk hidup lebih mandiri dan mensejajarkan dirinya dengan laki-laki. Annisa memberontak dengan ia mencoba berlatih menaiki kuda. Namun ibunya melarang Annisa untuk berlatih dan ayahnya sangat marah karena perbuatan Annisa. Ayahnya melarang Annisa berlatih karena ia adalah seorang perempuan. Didalam film ini juga ada adegan dimana Annisa terpilih menjadi ketua kelas dan mengalahkan teman laki-lakinya, namun hal ini dicegah oleh gurunya dengan tidak membolehkan Annisa menjadi ketua kelas, karenahanya laki-laki saja yang pantas untuk menjadi seorang pemimpin.
Didalam Film ini banyak sekali teori feminisme yang berperan didalamnya. Di dalam film ini juga memiliki pesan bahwa sebenarnya wanita tidak ada bedanya dengan laki-laki. Wanita tidak boleh tergantung dengan laki-laki dan tidak boleh lemah dari laki-laki.